UNTUK APA SHALAT DAN PUASA?

 


Setiap pilihan dan aktivitas selalu ada tujuannya.

Ketika anda menyapu, berarti anda bertujuan untuk menyingkirkan kotoran agar, rumah anda nyaman didiami. Tujuan inti dari kegiatan tersebut, bukan menggerakkan sapu supaya sapunya bergerak-gerak. 

Ketika anda makan, tujuan intinya adalah untuk memasukkan nutrisi agar tubuh sehat. Tujuan intinya bukanlah untuk mengunyah. Mengunyah hanyalah satu satu cara untuk memasukkan nutrisi ke dalam tubuh.

Begitu pula dengan agama Islam. Tujuan kita beragama adalah untuk mengesakan Allah dalam semua sisi. Mengesakan Allah (men-tauhid kan Allah) adalah tujuan semua kegiatan ibadah dan hidup kita.

Allah ta'ala berfirman :

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:"Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. Al-Anbiya` :25)

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):"Sembahlah Allah SWT (saja), dan jauhilah Thaghut itu",…. (QS. An-Nahl :36)

Thaghut berasal dari bahasa arab, yang artinya :

“(Thaghut) adalah setiap sesuatu yang melampui batasannya, baik yang disembah (selain Allah), atau diikuti atau ditaati (dan dia ridha diperlakukan demikian).”

Ibnul Qayyim berkata: “Jika engkau perhatikan thaghut-thaghut di alam ini, tidak akan keluar dari tiga jenis golongan tersebut.”

Definisi lain, thaghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah (dalam keadaan dia rela).

 

Karena itu, untuk masuk ke dalam Islam, bukanlah dengan melakukan shalat, melainkan syahadat, yang bunyinya :

Asyhadu an laa ilaaha illallah

wa asyhadu anna muhammadan rasuulullah

artinya :

Saya bersaksi, tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah

Dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah

Dengan kalimat syahadat ini, kita mengakui bahwa ada sembahan yang disembah oleh manusia selain Allah. Namun sembahan-sembahan selain Allah itu, tidak memiliki hak untuk disembah. Dan yang berhak disembah hanyalah Allah.

 

Mengapa tidak berhak untuk disembah ?

Karena mereka tidak memiliki kekuasaan apapun untuk mengabulkan apa yang kita minta. Tidak memiliki kekuasaan meski setipis kulit ari.

Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.” (Al Ankabut: 17)

“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (Al Faathir: 13)

 

Siapapun yang tidak memiliki kekuasaan atas makhluk, tidak punya hak untuk disembah. Sekalipun itu malaikat, Nabi, orang-orang shaleh, benda-benda atau apapun yang tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat, sesungguhnya tidak berhak menerima bentuk-bentuk penyembahan dari kita. Baik berupa qurban, doa dan bentuk-bentuk peribadatan lainnya.

Dalam ayat-ayat diatas, Allah ta'ala menegaskan bahwa siapapun dan apapun selain Allah, tidak ada yang memiliki kekuasaan sedikitpun kepada makhluk.

Mengesakan Allah dikenal dengan istilah tauhid. Inilah inti Islam.

Dengan analogi yang sudah disebutkan di awal tulisan ini, kita masuk Islam, tujuannya hanya untuk mengesakan Allah. Hanya untuk menyembah Allah dan menjauhi semua sembahan selain Allah. Shalat, berjilbab, puasa, berhaji, berzakat dan puasa, dan ritual-ritual ibadah lainnya hakikatnya adalah pembuktian dari inti keberagamaan kita,yaitu pengesaan kita kepada Allah.

Melakukan semua bentuk ibadah, namun masih menyekutukan Allah, dianalogikan seperti orang yang menyapu, namun tidak menyingkirkan kotoran, tetapi malah mengumpulkan kotoran. Menyapu tetapi tidak melakukan inti dari menyapu yaitu : membersihkan.

Rutin melakukan ibadah yang bersifat ritual maupun sosial, namun masih meminta kepada selain Allah, maka hakikatnya kita tidak melakukan inti dari agama Islam, yaitu mengesakan Allah.

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)

"Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu." (Az-Zumar: 65)

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa': 48, 116)

 

Karena itu, berjilbab, berpuasa, shalat, dan seterusnya, namun masih mengakui ada yang menguasai langit dan bumi, atau sebagian dari bumi, selain Allah, sebenarnya ia sedang melanggar apa yang justru menjadi inti amal saleh yang telah dilakukannya itu.

Ketika kita bersedekah, haji, dan seterusnya, namun kita masih meyakini bahwa ada yang bisa dimintai untuk hal-hal diluar kemampuan manusia, seperti meminta rezeki, jodoh, kesembuhan, selain Allah. Maka sebenarnya, ia sedang mengingkari inti dari perintah sedekah dan hajinya.

Karena itu, saudaraku, mari kembali pada tujuan kita berislam, yaitu untuk mengesakan Allah. Bentuknya yaitu dengan menjadikan Allah ta'ala sebagai motivasi dan tujuan kita dalam melakukan ibadah dan kebaikan-kebaikan dalam hidup.

“Katakanlah, Sesunggunya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku adalah bagi Allah Rabbul ‘alamin, tiada satu sekutupun bagi-Nya…” (QS. Al An’am [6]: 162-163)

 

Makassar, 30 Oktober 2012

 

Ani binti Arifuddin

 

Komentar

Postingan Populer