KETIKA PUJIAN MENYAPA
Ketika orang memberikan pujian kepada kita, ataupun ketika kita menemukan hal yang bisa dipuji dari diri kita, itu ibarat kita sedang dikenakan jubah.
"Jubah" pujian.
Ketika kita mengucapkankan
"Alhamdulillah", kita sedang menyerahkan "jubah" itu kepada
Allah, karena kita merasa, hanya Allah yang berhak diberikan "jubah"
itu. Dan kita tidak berhak untuk menerimanya.
Analogi lain dari makna
"Alhamdulillah" adalah, ketika kita mendapatkan pujian, kita ibarat
sebuah gelas kosong. Pujian itu ibarat air yang dituangkan ke gelas kita. Ketika
mengucapkan "Alhamdulillah", kita sedang menyerahkan 100% isi gelas
kita kepada Allah. Kita mengosongkan gelas diri kita dari pujian. Hingga tak
tersisa sedikitpun di dalamnya.
Maka makna "alhamdulillah" sebenarnya
mengajak kita, mengingatkan kita bahwa kita tidak pantas menerima pujian
apapun.
Kita kosong.
Tidak punya apa-apa.
Tidak bisa apa-apa
Dan bukan siapa-siapa.
Kita hanyalah faqiir ilallah (yang selalu
membutuhkan Allah) dalam semua hal. Kita tidak bisa punya apa-apa. Tidak bisa
berbuat apa-apa kalau bukan Allah yang memberi.
Dan pada saat yang sama, kita menyadari,
mengakui dan memuji Allah atas pemberian-Nya.
Ketika dalam shalat, kita membaca Al
Fatihah, lalu sampai di ayat "alhamdulillahi rabbil 'alamin", ayat
ini akan mengingatkan diri kita bahwa kita faqiir. Kosong.
Karena semua pujian akan kelebihan diri, sudah
kita serahkan semua kepada Allah, yang dengan ayat itu, kita akui sebagai
pemilik pujian yang sesungguhnya. Bukan kita.
Ketika dalam keseharian kita, baik di dalam
maupun diluar shalat senantiasa kita ulang-ulang, ucapan
Alhamdulillah akan mendidik jiwa kita untuk bisa menjadi hamba yang tahu diri
di hadapan Allah, semakin mengingat Allah, semakin rendah hati,
tidak ujub (kagum pada diri sendiri),
tidak ghurur(tertipu dengan kelebihan diri),
semakin tunduk hati sehingga semakin mudah untuk beribadah dalam bentuk apapun.
Mari cek kembali makna "alhamdulillah"
kita.
Dengan pemahaman yang benar, satu kalimat
sederhana yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya, akan mampu mengubah banyak hal
dalam diri dan hidup kita.
*Terinspirasi dari ta'lim tafsir penuh berkah oleh
ustazah Ummu Hafsah,Lc. Setiap jumat bada ashar, di Antang, Makassar.



Komentar
Posting Komentar