BAGAIMANA MENYIKAPI TAHUN BARU?

 


Masing-masing agama ada penanggalannya masing-masing.

Maka yang merayakan tahun baru malam ini, seharusnya hanyalah orang beragama masehi.

 

Bagi seorang muslim, penanggalan kita adalah penanggalan hijriyah.

Kita menggunakan kalender masehi, hanya untuk kesesuaian hidup dan mengatur jadwal dengan pihak lain.

Maka malam akhir desember bagi kita, sebenarnya tidak ada bedanya dengan akhir maret, akhir april,dst.

Kita sudah melewati 11 kali malam akhir bulan  dan tanggal 1.

Dan tidak ada yang istimewa di akhir dan awal bulan itu, sampai kita membuatnya istimewa karena mengisinya dengan amal yang sampai ke langit.

 

Muslim diajar untuk punya prinsip, membenarkan yang benar meski semua menganggap salah,dan sebaliknya. Memandang besar atau kecilnya sesuatu, bukan berdasarkan apa kata manusia.

 

Umat Islam adalah sebuah umat yang unik, punya prinsip dan gaya hidup sendiri. Bukan umat latah, ikut-ikutan dan hanya bisa membeo.

 

Meski seluruh manusia mengatakan bahwa malam ini adalah malam yang besar, istimewa,

jika dalam pandangan Allah, ini bukan malam yang istimewa, hanya sebuah malam biasa yang sama dengan malam-malam lainnya,

maka kita pun memandang bahwa ini adalah malam yang biasa.

 

Demkian juga sebaliknya, meski menurut manusia 10 hari awal dzulhijjah, adalah hari biasa, karena tidak digembar-gemborkan di TV dan di pusat-pusat perbelanjaan, kita akan tetap memandanganya sebagai sesuatu yang istimewa dan luar biasa. Karena itu, kita menyikapinya berbeda dari hari-hari lainnya. Dan pada puncaknya, kita merayakannya dengan berkumpul dan makan-makan di iedul adha dan hari-hari tasyrik.

 

Meski menurut manusia, 10 akhir ramadhan dinikmati dengan larut dalam keriuhan belanja, bagi seorang muslim, ia adalah malam yang sungguh istimewa untuk dinikmati dengan ibadah dan tafakkur di sudut-sudut kamar dan mesjid. Demikian seterusnya..

 

Merayakan adalah berkumpul, makan-makan pada satu momen karena menganggapnya istimewa.

Dan malam akhir tahun menurut penanggalan agama masehi, seharusnya tidak berarti apa-apa bagi seorang muslim. Sebagaimana juga malam 27 ramadhan dan Iedul Fitri  juga tidak berarti apa-apa dalam pandangan seorang yang beragama masehi.

 

" Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah mengira-ngira saja. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk. "

[Al-An’am/6:116-117]

 

Komentar

Postingan Populer