MENGAPA SAYA TIDAK MENGURUSI ORANG LAIN

 


Mengapa saya tidak ingin menghabiskan energi untuk mengurusi apa yang terjadi siluar diri saya, dan juka saya mengurusnya, tidak akan membawa perubahan apa-apa, karena saya bukan pihak yang berwenang untuk itu.

Karena itu akan menghabiskan energi saya. Sementara, saya membutuhkan energi yang besar dan terus ada, untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam diri saya sendiri, setiap saat, setiap hari.

Agar masalah itu tidak membuat saya kehilangan keseimbangan. Kehilangan hati bersih dan fikiran jernih. Yang bisa membuat saya menyakiti orang yang saya sayang, dan saya tahu, dia sangat sayang kepada saya.

Saya memilih untuk menggunakan energi untuk menghentikan kesibukan saya sejenak, untuk membaca bahasa hati anak dan suami saya. Melihat apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Merasakan rasa takut, kecewa,berbunga2 sedih, marah dan berbagai rasa lainnya. Untuk saya bisa memberikan mereka, respon yang mereka butuhkan.

Karena untuk menekan egoisme untuk mau menghentikan sejenak perputaran hidup untuk melihat semua itu pun, butuh energi.

Saya membutuhkan energi yang besar untuk menekan rasa marah dan sakit hati, dan memunculkan rasa empati dan sayang. Rasa penghargaan atas apa yang anak dan suami sudah lakukan selama ini, sehingga kemarahan dan sakit hati itu tergantikan oleh rasa sayang. Dari sayang dan empati itulah, saya mendapat energi untuk memberikan respon yang tidak meledak-ledak menghadapi si remaja yang suka ribet. Si sulung yang cuek bebek. Si kecil yang merengek minta perhatian. Dan si tengah yang tak meminta apaapa, tapi aebenanrnya membutuhkan perhatian.

Saya membutuhkan energi untuk meredam egoisme dan mendahulukan perintah Allah dalam berinteraksi dengan suami, anak, orangtua, mertua,pelanggan,pegawai dan orang lainnya.

Saya membutuhkan energi untuk melawan bisikan-bisikan setan di dalam hati dan fikiran, agar ketika Alah memandang keduanya, yang terlihat hanyalah apa yang dapat diridhai-Nya.

Saya membutuhkan energi untuk punya mental yang kuat untuk menghadapi berbagai karakter manusia setiap hari. Si keras kepala, si tak mau kalah, si jahil, dst.

Saya membutuhkan energi untuk bisa tetap rendah hati di dmhadapan Allah diantara berbagai pujian yang masuk.

Saya membutuhkan energi yang besar untuk bisa tetap rendah hati, bahkan di hadapan orang yang gemar maksiat. Untuk tidak merasa lebih baik. Untuk tidak lupa, bahwa kemampuan beramal, meski hanya untuk  mengucapkan bismilah sebelum makan, sepenuhnya adalah pemberian Allah. Yang bisa dicabut-Nya kapan saja, jika Dia melihatku menyombongkan diri di hadapan hamba-Nya.

Komentar

Postingan Populer