DIALOG TAUHID

 

                                                                   



"Anda positif mengidap tumor. Dan harus segera dioperasi." kata dokter. "Bagaimana kalau besok kita "angkat" ?".

"Boleh, dok. Insya  Allah.."jawab sang pasien dengan tenang.  Sang pasien dan dokter pun sepakat membuat janji. Tak tergambar sedikit pun rasa sedih, marah dan takut di wajah pasien itu. Ia hanya berdzikir dan terus berdzikir..

Sesampai di rumah, rencana operasi disampaikan kepada keluarganya. Keluarganya sontak merasakan kesedihan yang sangat. Anak perempuannya itu sudah memiliki banyak sakit lain yang juga kronis. Dan keluarganya tahu, tumor di bagian itu, adalah tumor yang sudah dihindari dan sangat ditakutinya sejak lama.

Pada saat yang sama, keluarganya keheranan melihat sikap anaknya yang biasa saja.

"Nak, kenapa kamu biasa biasa saja. Bukankah ini adalah sakit yang  sangat kau takuti sejak kecil ?"tanya ibunya.

Sang anak hanya tersenyum pelan.

" Ummi. Kalau perabot rumah ini mau diatur, siapa yang berhak mengaturnya?. Apakah tamu berhak menentukan dimana akan diletakkan meja makan, kursi tamu, dll? "ujar sang anak justru balik bertanya.

"Tentu Ummi dan abamu yang berhak menentukannya, nak. Bukan tamu. Karena rumah ini kan milik kita, bukannya tamu," ujar  ibunya sambil senyum keheranan.

"Nah, tubuh saya ini kan milik Allah, ummi. Berarti Allah juga berhak menentukan dan mengatur penyakit apa saja yang akan ditaruh di badan saya. Di bagian mana  saja, Dia akan meletakkan sakit, itu adalah hak-Nya kan, ummi." ujar sang anak mulai menjelaskan. "Dan Allah  itu Maha penyayang dan Maha bijaksana. Allah juga  menegaskan bahwa ia tidak mungkin berlaku zhalim. Apapun yang Allah atur, pasti ada kebaikan di baliknya.." lanjutnya.

Suasana hening sejenak...

"Lagipula, kapan lagi saya bisa mendapatkan pahala sabar, kalau Allah tidak menyediakan ladang sabar untuk saya panen nanti hasilnya di akhirat.." ujar sang anak memecah keheningan yang singkat itu.

Sang bunda terdiam sejenak. Tidak lama kemudian, ia tersenyum. Malam itu, ia mendapatkan pelajaran berharga.

 

(Diadaptasi dari kisah seorang akhawat)

Makassar, 17 Januari 2010

 

 

Komentar

Postingan Populer