KISAH DI RUKO
"Serahkan, kunci kotak amal ini!.Saya petugasnya!". Bentak seorang bapak,sambil nyelonong masuk ke depan kasir.
Sari,pegawai saya, langsung gemetar.
Sudah jelas bukan dia petugas kotak amal yang dititip
ke toko kami. Karena kunci selalu ada di petugas. Lagipula caranya sudah
jelas,bukan datang dengan niat baik.
"Ayo cepat,mana kuncinya?!". Tangannya
menggapai tubuh pegawai saya yang makin tersudut. Sambil masuk ke area dalam
kasir,sambil membuka beberapa kancing bajunya.
Hari itu, ruko sedang kosong. Hanya satu pegawai yang
masuk. Kebetulan Aba
sedang ada acara, dan saya ingin sekali menemani mama di rumahnya.
Biasanya, ruko tidak pernah
ditinggal seperti itu. Karena dulu biasanya kalau pegawai cuma satu yang jaga,
dan tidak ada orang di lantai 2, ada-ada saja orang yang berniat jahat yang
masuk. Tapi karena sudah lama aman-aman saja, meski dengan satu pegawai, jadi hari itu, kami tetap
keluar. Meski sebenarnya ada perasaan kurang enak ketika keluar.
Suasana diluar ruko juga sedang sepi. Toko di depan
dan samping Nahla buka seperti biasa. Tapi pegawainya sedang sibuk dengan
urusan masing-masing. Lagipula ruko kami ditutup pakai pintu kaca, jadi jadi
tidak terlihat jelas ke dalam. Kalaupun berteriak, tidak akan terdengar keluar.
"Tunggu saya sampaikan sama ustadz dulu, pak.
Ustadz yang pegang kuncinya. Beliau lagi diatas. Nanti beliau yang
bukakan..", jawab sari sambil gemetar
"Kalau ada orang diatas, kenapa tidak ada
kedengaran apa-apa?!", bentak si bapak.
"Karena lagi rapat, pak..Diatas itu banyak orang
lagi rapat. Sebentar lagi ustadz turun bawakan kuncinya, pak.."
Tiba-tiba,
"Prangg!!", pintu pembatas tangga terbanting
sangat keras. Dan mengejutkan pegawai dan bapak itu. Biasanya pintu itu memang
berbunyi jika ada yang hendak turun ke lantai 1. Tapi tidak pernah sedemikian
keras.
"Itu ustadz sudah mau turun,pak..", lanjut
pegawai saya.
"Kalau begitu, saya pergi dulu, nanti saja saya
kesini lagi..", terlihat takut, bapak itu buru-buru pergi.
Sari mengucap syukur yang tak terhingga. Sekaligus
merinding. Karena ia tahu pasti, sebenarnya diatas tidak ada siapa-siapa sejak
pagi.
Dia hanya terpekur di sudut depan ruko mungil kami,
sambil berpikir, siapapun yang telah membanting pintu itu, dia telah
menyelamatkan semuanya dari musibah yang tak terbayangkan.
Terus terang saya masih merinding jika mengingat
peristiwa ini. Di saat yang sama, juga merasakan kasih sayang Allah yang begitu
besar kepada kami, terutama pegawai kami.
Dalam Islam, kita diajarkan bahwa Allah mengutus
malaikat-malaikat yang khusus untuk menjaga setiap hamba-Nya.
Malaikat ini menjaga manusia secara bergantian, setiap
subuh dan ashar. Untuk melindungi manusia dari terkena mudharat (bahaya), baik
dari kalangan jin, manusia, hewan, dll. Sampai ada takdir Allah kepada manusia
tersebut, maka malaikat penjaga akan menyingkir dan kembali setelah takdir
tersebut selesai kepada manusia.
Hal yang mengancam untuk membahayakan kita pastinya
jauh lebih banyak. Tapi yang terjadi hanya sedikit dari potensi ancaman bahaya
itu.
Dengan keyakinan ini, manusia tidak perlu untuk
mengirimkan jin untuk melindungi sanak saudara maupun keturunannya. Karena
dengan perlindungan yang jauh dan tak ada bandingannya, telah disediakan gratis
oleh Ar Rahman.
Penjelasan lebih lanjut tentang hal ini, bisa baca
disini:
http://islamqa.info/id/6523
Semoga sebagaimana Allah telah menjaga kami di hari
senin kemarin, semoga Dia juga berkenan menjaga kami dan kita semua, di
akhirat. Dimana perlindungan-Nya pada hari itu, jauh lebih kita butuhkan daripada
ketika di dunia ini..
Aamiin..aamiin, ya Rabbal 'alamiin..
Makasar, 2 September 2014
Yang selalu mengharapkan perlindungan Allah,
Ani Binti Arifuddin



Komentar
Posting Komentar