ADAB KEPADA ORANG TUA
Islam
datang ketika manusia tidak mengenal Tuhannya. Ketidaktahuan ini menjadikan
mereka manusia tanpa peradaban. Ketika cahaya Islam datang, perubahan yang
paling tampak adalah perubahan adab (etika). Peradaban inilah yang akhirnya
menyinari eropa, asia dan akhirnya ke seluruh dunia sehingga kita menikmati
peradaban seperti sekarang ini.
Namun sebagian
orang menomorduakan adab dan akhlak. Seakan keduanya tidak memiliki kaitan
dengan aqidah aqidah dan tauhid. Padahal aqidah yang lurus memiliki hubungan
yang sangat erat dengan akhlak seseorang. Aqidah yang benar, pasti dan
seharusnya melahirkan sosok yang beradab yang berakhlak mulia. Hal ini digambarkan dalam hadits Rasulullah :
“Barangsiapa
beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklh ia berbuat baik terhadap
tetangganya.” (HR. Muslim)
Untuk
itulah, mulai edisi kali ini, kita akan membahas adab (etika) yang ada dalam dien (agama) kita. Dan kali ini, kita akan
membahas adab terhadap orang tua.
***
Kita
pasti sudah sering membaca ayat ini :
“Dan
Tuhanmu telah menetapkan agar engkau tidak menyembah kecuali hanya padaNya, dan
(agar engkau) berbuat baik kepada kedua orang tuamu.
Dan
bila keduanya atau salah satu dari keduanya telah berusia lanjut di sisimu,
maka janganlah engkau mengucap: ‘Ah!’ pada keduanya dan janganlah kamu
menghardik mereka. Tapi ucapkanlah perkataan yang mulia pada keduanya, serta
tundukkanlah dirimu pada keduanya sebagai bentuk kasih sayang, dan berdoalah:
‘Ya Tuhanku, kasihilah keduanya sebagaimana keduanya telah mendidikku sewaktu
kecil’.” (al-Isra’:
23)
Ayat ini
menjelaskan prinsip-prinsip dalam beradab kepada kedua orang tua:
1. Dalam hidup ini tidak perintah utama untuk
kita selain mengakui dan membuktikan bahwa hanya Allah satu-satunya yang kita jadikan
sembahan. Disebutkannya birrul walidain setelah perintah untuk bertauhid, menunjukkan
pentingnya perintah Allah yang satu ini.
Dengan
ayat ini, kita bisa tahu bahwa berbakti kepada orang tua bukan semata karena
mereka telah dengan susah payah mengandung dan membesarkan kita. Melainkan
karena birrul walidain adalah perintah Allah. Apa bedanya? Jika kita birrul
walidain semata-mata untuk membalas jasa orang tua, akan ada waktunya kita
mogok ketika kita merasa orang tua kita justru melakukan yang sebaliknya.
Misalnya: kita merasa, orang tua tidak sayang, membeda kita dengan saudara yang
lain, bahkan mungkin menyakiti hati dan fisik kita. Hal-hal ini terkadang menjadi
alasan untuk membuat kita tidak menurut kepada orang tua. “Buat apa saya dengar
dia, saya pakai jilbab saja, disiksa habis-habisan kayak gini!”, misalnya. Nah,
itulah gunanya memperbaiki landasan birrul walidain kita. Kalau kita
melakukannya karena Allah memerintahkan seperti itu, kita tidak akan bergeser
dari birrul walidain sekali pun orang tua terkadang berbeda dengan yang kita
harapkan. Karena kalau birrul walidain sekedar untuk membalas jasa, kita kan
berhenti atau mengurangi birrul walidain ketika kita merasa orang tua juga
mengurangi atau menghentikan kebaikannya kepada kita.
Diriwayatkan
dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu: “...Jika salah satu dari keduanya (orang
tua) marah, maka Allah tidak akan meridhai sang anak sampai orang tua itu
meridhai.” Ditanyakan kepada Ibnu ‘Abbas, “ Sekalipun keduanya telah
menzhaliminya?” Ibnu Abbas menjawab, “ Sekalipun keduanya telah menzhaliminya.”
2. Allah
memerintahkan kita untuk tunduk kepada keduanya dengan kasih sayang. Hal ini
mengajarkan kita adab-adab kepada orang tua, antara lain:
a. Taat kepada kedua orang
tua dalam semua perintah dan larangannya, selama tidak untuk maksiat kepada
Allah.
b. Melayani orang tua.
Termasuk perbuatan durhaka jika ia menyuruh orang tua melayani dirinya.
c. Tidak mendahuluinya
makan dan berbicara ketika sedang bersama
d. Berjalan di
belakangnya
e. Merendahkan suara di
depannya
f. Memuliakan keduanya
dengan perkataan dan perbuatan yang baik
h. Tidak memanggilnya
dengan namanya, namun dengan panggilan: “Ayah” atau “ibu”.
i. Tidak bepergian
kecuali dengan izin dari keduanya.
j. Menghilangkan mudharat
dari keduanya
k. Mengalah untuk
kebaikan keduanya.
l. Menyambung silaturahmi
dengan keluarga orang tua
3. Allah
melarang kita mengucapkan “ah”, yang berarti semua bahasa verbal dan non verbal
yang bisa menunjukkan ketidaktaatan kita, memutus rasa kasih sayang dan membuat
sedih hati mereka adalah dilarang. Nah dari sini, kita bisa merincikan beberapa
hal yang dilarang :
a. Mengghibahi orang tua
b. Mencaci dan melaknat
keduanya mau pun orang tua orang lain
c. Menajamkan tatapan
mata ketika kesal kepada mereka
d. Melakukan hal yang
dapat membuat mereka sedih, meskipun kita berhak melakukannya.
e. Malu mengakui kedua
orang tuanya di depan orang lain
f. Mengeraskan dan
mengangkat suara di depan keduanya
4.
Mendoakan mereka, yang artinya memasukkan rasa cinta kepada mereka hingga
kedalam hati kita. Karena hati yang cinta yang dapat mendorong anak medoakan
orang tuanya.
Sebesar
apapun ibadah yang kita lakukan, itu semua tidak akan bermanfaat baginya jika
masih diiringi kedurhakaan kepada keduanya, yaitu ketika kita tidak
melaksanakan adab-adab birrul walidain. Sebab, Allah SWT menggantung semua
ibadah itu sampai orang tuanya ridha.
Diriwayatkan
dari ‘Amr bin Murah Al-Juhani r. bahwa dia berkata, “Seorang lelaki pernah
mendatangi Nabi SAW, kemudian berkata , “Wahai Rasulullah, aku telah bersaksi
bahwa tidak ada Ilah yang pantas disembah selain Allah dan bahwa engkau adalah
utusan Allah. Aku (juga) telah melaksanakan shalat lima (waktu), menunaikan
zakat dari hartaku dan berpuasa pada bulan ramadhan. ‘ Nabi menjawab , “Barangsiapa
yang meninggal dalam keadaan seperti)
ini, maka ia akan besama para nabi, shiddiqin, dan syuhada pada hari kiamat
nanti seperti ini – beliau member isyarat dengan dua jarinya (jari telunjuk dan
jari tengah) – sepanjang ia tidak durhaka kepada kedua orang tuanya.”
Mungkin memang orang tua kita bukan aktifis
dakwah. Mungkin ilmu kita lebih banyak daripada mereka. Mungkin mereka bukan
pula seorang ustadz atau ahli ibadah. Mereka mungkin orang biasa saja. Bahkan
mungkin pula seorang pendosa. Tetapi bukankah mereka tetaplah orang tua kita?
Dan kita tetaplah anaknya yang diwajibkan oleh Allah ta’ala untuk berbakti dan tidak
durhaka kepada salah satu atau keduanya sampai maut menjemput kita.



Komentar
Posting Komentar