BELAJAR BERTERIMA KASIH KEPADA ALLAH

 

                                                

 



   Syukur adalah kata yang sudah sering kita dengar. Dan telah lama kita ketahui. Penyebab orang merasa bersyukur pun beraneka ragam. Ada yang bersyukur karena lulus ujian, karena diberikan suara yang bagus, bodi yang ok, harta yang banyak, atau pun karena berhasil menjadi artis, model,dan lain-lain. Semuanya sama saja, bersyukur karena Allah memberikan apa yang ia inginkan.

  Ungkapan syukurnya pun bermacam-macam. Yang bersuara bagus mengungkpkan syukurnya dengan menelurkan album bernuansa agama. " Alhamdulillah, saya sudah mendapatkan rezeki yang banyak dari Allah dari suara saya. Jadi sebagai bentuk syukur, saya ingin mengeluarkan album yang mengagungkan kebesaran Allah" kata seorang penyanyi ketika ditanya alasannya menegapa mengeluarkan album bernuansa Islam. Yang tak kalah seru adalah ketika seorang gadis bersujud syukur setelah "berhasil" lolos audisi sebagai model (yang untuk lolos, ia harus rela berpakaian sangat minim).   

  Di sisi yang lain, ada juga yang merasa sudah bersyukur hanya dengan mengucapkan alhamdulillah ketika mendapatkan nikmat dari Allah. Lantas, bagaimana sesungguhnya cara mengungkapkan rasa terima kasih kita kepada Allah ?  

Kembali kepada makna  syukur

   Syukur dalam bahasa Arab berarti tampaknya secara fisik akibat sesuatu yang baru saja dilakukannya. Misalnya dikatakan :" Daabbah syakura", maksudnya : binatang melata yang menjadi gemuk yaitu kelihatan padanya tanda-tanda kegemukan setelah ia mendapatkan makanan.

   Adapun syukur dalam terminology Islam bermakna : menampakkan bekas-bekas nikmat Allah dengan mencintai-Nya dalam hati, memuji-Nya dengan lisan dan berserah diri kepada-Nya dengan anggota badan.

  Jadi syukur memiliki 3 rukun, yang jika salah satunya tidak ada, maka kita tidak bisa dikatakan bersyukur, yaitu ;

  1. Mensyukuri nikmat itu secara bathiniyah, dengan mengakui bahwa itu semuanya dari Allah
  2. Mensyukuri nikmat secara lisan, dengan mengucapkan Alhamdulillah
  3. Menggunakannya sebagaimana tujuannya diciptakan dan tidak menggunakannya di jalan yang dibenci-Nya. Mata diciptakan untuk melihat tanda – tanda kebesaran  Allah (bukan untuk dipakai melihat hal-hal yang diharamkan!), badan untuk dipakai beribadah, lisan diciptakan untuk beribadah, hati diciptakan untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah (bukan untuk memendam cinta yang diharamkan!), dan pendengaran diciptakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah (QS. 7 : 179)

  Jadi jika mendapatkan nikmat, lalu kita mengucapkan hamdalah tapi nikmat itu tidak digunakan sebagaimana mestinya, justru dipakai di jalan yang Allah benci, itu berarti kita belum bersyukur.

  Ketika anda mendapatkan nikmat, misalnya penghargaan, namun merasa itu adalah hasil kerja keras kita bukan dari Allah, lalu yang keluar dari lisan kita adalah ungkapan penuh ujub memuji diri sendiri, bukan memuji Allah, maka sebenarnya kita masih jauh dari sifat syukur.

  Atau ketika nikmat itu sudah diraih namun justru celaan yang kita ungkapkan (misalnya : mencela hidungnya yang tidak seperti yang ia inginkan,dst) maka anda sudah gagal total menjadi "abdan syakuura".

Terlalu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Mulai dari  nikmat yang bersifat zhahir (harta, tempat tinggal, dst), maupun yang bersifat bathin ( keimanan, ditutupnya aib, waktu, keamanan, dan masih banyak lagi)

 

Syukur, kewajiban yang terlupakan

Kita mungkin takut untuk meninggalkan kewajiban shalat, puasa, jilbab dan kewajiban-kewajiban kasat mata lainnya. Tapi seakan tiada dosa ketika kita mengingkari ni'mat Allah dengan tidak bersyukur kepada-Nya sebagaimana mestinya. Padahal Allah ta'ala telah mengingatkan : 

"..dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(QS. 14 : 7)

Jadi agar tidak dikatakan kufur nikmat, lakukanlah tiga hal ini setiap kita mendapat nikmat :

  1. Akuilah di dalam hati bahwa setiap nikmat yang kita terima semata-mata karena Allah yang memberikan-Nya bukan karena kehebatan kita.
  2. Ucapkanlah hamdalah setiap nikmat itu datang, sekecil apapun dalam pandangan kita.
  3. Gunakan suatu nikmat sebagaimana tujuan ia diciptakan.

Ketika Aisyah ra melihat Rasulullah shalat hingga kaki beliau menjadi bengkak, Aisyah pun bertanya :" mengapa engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan akan datang?. Rasulullah menjawab :" Bukankah aku aku sepantasnya menjadi hamba yang bersyukur?".     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer