SUDAHKAH KITA "WUKUF" ?
"..tanggal 9 Dzulhijjah jamaah haji dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Arafah melakukan wukuf. Wukuf merupakan puncak penyelenggaraan ibadah haji.
Sah-tidaknya haji seseorang sangat ditentukan oleh hadir-tidaknya ia wukuf di
Arafah. Sebab wukuf merupakan inti dari segenap rangkaian ibadah haji.
Rasulullah Muhammad صلى الله عليه و سلم
menyatakan:
الْحَجُّ عَرَفَةُ
“Inti
Haji adalah wukuf di Arafah” (Hadits Shahih Imam An-Nasai)
Walaupun
seorang jama’ah haji melakukan kegiatan thawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i
bolak-balik antara Shofa dan Marwah, melontar batu di Jamarat, namun jika tidak
ikut-serta wukuf di Arafah, maka orang itu tidak dianggap melakukan haji.
Artinya hajinya tidak sah. Sebab inti daripada prosesi ibadah haji ialah
melaksanakan wukuf di Arafah.
Uniknya, justru kegiatan wukuf merupakan kegiatan yang paling tidak menuntut kegiatan jasmani. Tidak seperti thawaf atau sa’i atau melontar jumrah. Semua kegiatan tersebut menuntut keterlibatan jasmani yang seringkali bahkan mengandung resiko. Tatkala sedang thawaf jamaah haji sangat mungkin berdesak-desakan selama mengelilingi Ka’bah.
Ketika sedang sa’i sangat mungkin seseorang mengalami keletihan.
Bahkan saat di Jamarat seseorang sangat mungkin malah
terkena lemparan batu jamaah haji lainnya.
Sedangkan kegiatan wukuf merupakan kegiatan dimana seorang hamba Allah dituntut untuk berdiam diri, tidak melakukan kegiatan jasmani apapun.
Yang menjadi tuntutan
ialah bersibuk tenggelam di dalam dzikrullah (mengingat Allah سبحانه و تعالى ) dan tafakkur (merenung). Dan Rasulullah صلى الله عليه و سلم menegaskan bahwa
inilah inti ibadah haji. Inti sekaligus puncak ibadah haji ialah mengingat
Allah سبحانه و تعالى dan merenungi
perjalanan hidup. Inti haji bukanlah pada aktifitas thawaf atau sa’i atau
melontar jumrah. Seolah hal ini mengajarkan kepada kita bahwa bukanlah
bersibuk-sibuk beraktifitas dalam kehidupan sehari-hari itu yang penting dan
utama, tetapi yang lebih penting dan utama ialah memastikan bahwa berbagai
kesibukan yang dilakukan berdasarkan hasil perenungan mendalam dan tidak
terputusnya jalinan hubungan dengan Dzat Yang telah memberikan kita izin untuk
beraktifitas.
Itulah sebabnya mengapa di dalam Al-Qur’an kata “amal sholeh” tidak pernah disebutkan sendirian tanpa dibarengi bahkan didahului dengan “beriman”. Artinya, memastikan bahwa kita telah benar-benar beriman jauh lebih penting dan utama daripada sekedar memperbanyak amal sholeh. Alangkah naifnya bila ada seorang yang mengaku muslim lalu ia tidak pernah merenungkan apa yang melandasi berbagai amalnya, yang penting menurutnya adalah banyaknya amal. Lalu dia berusaha mengisi waktunya dengan sebanyak mungkin amal. Lebih jauh lagi dia memandang remeh orang lain yang dinilainya tidak banyak beramal. Sehingga dengan mudah dia menstempel orang tersebut sebagai orang-orang yang hanya NATO (no action, talk only).
Padahal
Allah سبحانه و تعالى memperingatkan kita
bahwa ada sementara manusia di dunia ini yang mengira bahwa dirinya sudah
banyak berbuat kebaikan namun ternyata di dalam pandangan Allah سبحانه و تعالى justeru mereka itulah orang-orang yang
paling merugi.
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالاالَّذِينَ ضَلَّ
سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ
صُنْعًا أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ
وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَزْنًا
ذَلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي
وَرُسُلِي هُزُوًا
“Katakanlah:
“Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam
kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat
sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Rabb
mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia (Allah). Maka hapuslah
amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan)
mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahanam,
disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan
rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.” (QS Al-Kahfi 103-106)
...
Melalui
kegiatan wukuf, setiap muslim disuruh untuk “stop and think” alias berhenti
sejenak untuk merenung. Jangan biarkan diri tenggelam dalam berbagai kesibukan
apalagi rutinitas sehari-hari (termasuk kesibukan ibadah), sehingga apa-apa
yang dikerjakan menjadi bersifat mekanistik belaka, kehilangan ruh bahkan
tersesat arah dan tujuannya.."
*
Petikan dari khutbah Ied yang tak terlupakan..



Komentar
Posting Komentar