SEMBUNYI-SEMBUNYI


Sebagian orang suka ketika ada kesempatan, dimana tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Kesempatan, dimana ia bisa sembunyi-sembunyi melakukan dosa. Atau mungkin tidak sembunyi-sembunyi, tapi melakukannya bersama orang yang juga berani melakukan dosa itu.

Kesempatan dimana ia bebas melakukan maksiat yang ingin ia lakukan, tanpa terhalang oleh malu kepada manusia. 

Di hadapan manusia, ia menampakkan keshalihan. Namun ketika ada kesempatan untuk bermaksiat, langsung diterjangnya. Di hadapannya, dosa ia rasakan begitu remeh. Atau bahkan menganggapnya boleh saja.Dan ia melakukan dosa dengan berani. Hanya saja, ia tak ingin melakukannya di hadapan orang lain, karena kuatir dengan celaannya. 

Untuk orang seperti ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Sungguh aku mengetahui  kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan kebaikan sebesar Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikannya sebagai debu yang bertebaran.” 

Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, gambarkan pada kami agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa kami sadari.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, bahwa mereka adalah saudara-saudara kalian. Sebangsa dengan kalian (sesama manusia).
Mereka melewati malam sebagaimana kalian melewatinya.Namun mereka adalah kaum yang jika bersendiri dengan larang-larangan Allah, mereka lalu melanggarnya.”
(HR. Ibnu Majah no. 4245)

Catatan :
-Gunung Tihamah adalah pegunungan yang terdiri dari sekitar 24 gunung besar.Terbentang dari dekat Jeddah sampai di perbatasan Yaman.


Namun, ada pula sebagian orang yang suka ketika ada kesempatan, dimana tidak ada orang. Kesempatan dimana ia bisa sembunyi-sembunyi menangis karena haru ketika mengingat Allah. Kesempatan dimana ia bebas mengekpresikan cintanya yang tulus kepada Allah. Mengekspresikan pengagungannya kepada Allah ta’ala, melalui doa dan dzikir. 
Ataupun menangis karena takut kepada Allah, ketika membaca ancaman Allah melalui ayat-ayat-Nya. 

Ketika ada orang, ibadahnya terlihat biasa saja, karena tertahan oleh kekuatirannya terhadap riya’. Sehingga ketika kesempatan untuk bersepi dengan Allah ta’ala, kesempatan itu langsung diambilnya. 
Baik dengan sebait dzikir dan doa. 
Segaris senyum rindu dan harap pada Allah ta’ala. 
Tangisan penyesalan atas dosa. 
Ekspresi cinta,takut dan harapnya pada Allah, yang malu ia perlihatkan di hadapan manusia, karena kuatir Allah menolaknya lantaran riya’.

Ini karena amal tersembunyi lebih baik daripada amal yang dinampakkan. 

Karena Allah ta’ala berfirman :

إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ
Jika kamu MENAMPAKKAN sedekah(mu), maka itu adalah BAIK.

وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu LEBIH BAIK BAGIMU.
(Al-Baqarah: 271)

Saking tersembunyinya, ketika ia bersedekah dengan tangan kanan, tangan kirinya tidak mengetahuinya. Artinya, amalannya bahkan sangat jarang diketahui oleh orang yang terdekatnya. Yang selalu bersamanya sekalipun.

Semuanya karena dorongan iman.
Karena kekuatiran tidak bisa menaklukkan dorongan riya’.
Karena menyadari bahwa hawa nafsu selalu mendorong untuk amalnya diketahui dan dipuji orang.  

Karena dorongan ingin mendapat naungan di hari kiamat kelak. Dimana, dari tujuh golongan orang yang mendapat naungan di hari kiamat, dua diantaranya, disebabkan oleh amalan yang tersembunyi. 

Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi dengan naungan-Nya, pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

(diantaranya) …dan seorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya…

…dan seseorang yang berdzikir kepada Allah secara menyendiri, lalu air matanya berlinang.”

[Riwayat al-Bukhari dalam Shahīh-nya I/234/629 dan Muslim dalam Shahīh-nya II/715/1031.]

Kisah menyembunyikan amalan ini, berderet di sepanjang kisah-kisah para salafush-shalih dan orang-orang shalih yang setia mengikuti mereka. 

Orang-orang yang mengenal Allah melalui pencarian ilmu yang tak putus-putusnya. 
Yang setia mencarinya di balik ayat-ayat-Nya, maupun lembaran-lembaran hadits dan sejarah Nabi dan salaf ash shalih.

Orang-orang yang hanya membutuhkan Allah dan tidak membutuhkan pandangan siapapun selain-Nya. 

Hiduplah bersama mereka melalui kisah-kisah yang masih terekam hingga hari ini. Dan renungkanlah kesudahan orang-orang yang mencari wajah manusia dan mengabaikan pandangan Allah ta’ala.


"Semoga Allah menjadikan kami dan kalian zuhud terhadap hal yang haram, sebagaimana zuhudnya orang yang bisa melakukan dosa dalam kesendirian, namun ia mengetahui bahwa Allah melihatnya, maka ia tinggalkan dosa itu.” (Bakr al-Muzani)





 Dari berbagai sumber

 Makasar,4 Des 2015






















Komentar

Postingan Populer