KOREKSI DIRI, AGAR BAHAGIA DI DUNIA DAN AKHIRAT

Koreksi diri adl bgn dr ajaran Islam.

Dan ini hanya  bisa dilakukan, jika kita mmg ada keinginan yg kuat dari dalam diri sendiri. 

Karena : “Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri” (Qs. Al-Ra`d: 11).

“Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagaimana dia mengoreksi rekannya"(Maimun Bin Mihran).   


TIDAK MENGOREKSI DIRI, SUMBER KESEDIHAN DAN KEBINASAAN

Tanpa koreksi diri yang sungguh-sungguh, kita akan kelelahan untuk terus mencari alasan terhadap komplain dan tuntutan dari orang lain tentang sikap-sikap dan amanah yang dipercayakan kepada kita. 

Sementara, orang lain  akan terus menuntut sikap yg baik dari kita.
Ia merupakan sunnatullah (syariat Allah yang berlaku di alam) yg akan berjalan terus, meski kita tidak menginginkannya. 

Sebagai guru, kita akan dituntut orang tua murid, untuk mendidik anak-anak mereka dengan baik. 
Kepala sekolah akan menuntut kita untuk rajin menyelesaikan tugas-tugas keguruan. 
Orang tua akan menuntut kita untuk membahagiakan dan tidak menyakiti hati mereka. Anak-anak menuntut kita untuk diperhatikan, disayangi tanpa pilih kasih, diurus,dst. 
Mertua akan menuntut untuk kita mengurus anak dan cucunya dgn baik. Begitulah seterusnya. 

Tuntutan-tuntutan sosial akan terus mengalir terhadap kita. 
Kita akan trs dituntut untuk semakin baik, dan dikomplain atas sikap kita yang tidak menyenangkan.                  

Ingin melawan sunnatullah ini, hanya akan melelahkan diri dan akan mnjadikannya beban yang akan terus terakumulasi seiring waktu.

Beban ini, jika tidak diselesaikan dengan terus memperbaiki diri, dapat membuat kita bisa jatuh dalam kesedihan dan kemarahan yang bisa menggerus dan melemahkan iman dan fisik kita. 

Karena kemarahan dapat membinasakan diri sendiri, Allah subhanahu wa ta'ala mengingatkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk tidak terlalu bersedih dengan orang-orang yang tidak ingin beriman:
“ Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
( Qs Fathir : 8 )

LALAI MENGOREKSI DIRI, BISA MENYEBABKAN NIFAQ

Dalam taraf tertentu, keengganan kita untuk mengoreksi diri, akan membuat kita memakai topeng demi topeng untuk menutupi diri kita yang sebenarnya. 

Agar selamat dari celaan dan penilaian negatif dari orang lain. Dan ini bisa mengakibatkan musibah besar bagi iman, yaitu sifat nifaq. 

Nifaq berasal dari kata "nafaqa", yang berarti salah satu lubang tempat keluarnya yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, di mana jika ia dicari dari lobang yang satu, maka ia akan keluar dari lobang yang lain. Dikatakan pula, ia berasal dari kata النَّفَقُ (nafaq) yaitu lobang tempat bersembunyi.

Menurut definisi Islam, nifaq berarti menampakkan keislaman tetapi menyembunyikan kekufuran. menampakkan kebaikan tetapi menyembunyikan kejahatan.


Pelaku nifaq disebut sebagai munafik. Jadi, seorang muslim pun bisa menjadi munafiq. karena munafiq bukan hanya bagi orang yang menyembunyikan kekafirannya. 

Untuk yang ini, disebut nifaq akbar, yang mengeluarkan dari Islam. 

Namun ada juga yang disebut nifaq kecil, yaitu ketika ia menyembunyikan kejahatan dan menampakkan kebaikan, agar orang tetap menganggapnya baik, meski ia tetap mempertahankan keburukannya. 

Mentalitas munafiq dalam diri seorang muslim inilah yang akhirnya melahirkan sikap mudah berbohong, mengkhianati amanah, ingkar janji dan curang dalam debat, seperti yang disebutkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits :

“Ada empat hal yang jika terdapat pada diri seseorang, maka ia menjadi seorang munafiq sejati, dan jika terdapat padanya salah satu dari sifat tersebut, maka ia memiliki satu karakter kemunafikan hingga ia meninggalkannya: 1) jika dipercaya ia berkhianat, 2) jika berbicara ia berdusta, 3) jika berjanji ia memungkiri, dan 4) jika bertengkar ia melewati batas.” (HR. Bukhari) 

Semua sikap-sikap ini akhirnya lahir karena ia selalu meeruskan keburukannya, tetapi ingin tetap terlihat baik. Menyembunyikan sesuatu yang lain dari yang ia tampakkan.

Karenanya, mengoreksi diri adalah kebutuhan yang amat mendesak dalam akhlak seorang muslim..

KOREKSI DIRI, TERUS MENERUS

Ketika kita sudah menjadi muslim, bahkan mungkin telah belajar dan mempraktekkan apa yang kita pelajari, tidak jarang muncul hal yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. 

Misalnya ketika Allah ta'ala mengatakan : 

" Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS: Ar-Ra'd Ayat: 28).

Namun ketika ditimpa masalah, meski telah berdzikir, hati tetap tidak tenang, masih sulit menerima apa yang terjadi, sehingga jatuh pada depresi. 

Apakah ayatnya yang salah? atau dimana letak kesalahannya? 
Disinilah kita membutuhkan koreksi diri. 

Koreksi tentang cara kita memahami dan mengamalkan suatu ajaran islam. inilah yang diingatkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :
"
Apabila kamu berjual beli dengan cara inah (riba), mengambil ekor-ekor sapi (berbuat zhalim), ridha dengan pertanian (mementingkan dunia) dan meninggalkan jihad (membela agama), niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Dia tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada ajaran agama

Dalam riwayat lain, disebutkan dengan lafadz,
حتى يراجعوا دينهم
Hingga mereka mengoreksi pelaksanaan ajaran agama mereka” [Shahih. HR. Abu Dawud].

Sudah mengamalkan Islam, tetapi hidup tetap tidak tenang, masih terjatuh dalam kehinaan? pada saat itulah, kita membutuhkan koreksi demi koreksi. Terus menerus.

KOREKSI DIRI, AGAR TAK MENYESAL DI AKHIRAT


Yang tak kalah penting adalah bahwa koreksi  terus menerus terhadap diri dan pelaksanaan Islam kita, amat diperlukan agar amal yang telah sedemikian banyak kita lakukan, tidak menjadi penyesalan di akhirat kelak. 

Jangan sampai kita telah merasa baik, tidak ada lagi masalah, telah merasa diridhai Allah, sehingga tidak terpikir lagi untuk terus meneliti diri sendiri. 

Tidak seorang pun boleh merasa cukup dengan amal-amalnya. 

Karena tidak semua yang banyak amal, bisa menikmati apa yang telah ia usahakan selama ia di dunia. 

Allah ta'ala berfirman:
"Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. Al Kahfi :103-104)
 
“Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia(Umar bin Khattab).

Mari bersemangat menyambut perbaikan diri.
Mari jadikan muhasabah dan koreksi diri secara jujur sebagai bagian dari akhlak kita sehari-hari. In syaa Allah bahagia dunia dan akhirat.

Bercermin dari Kitabullah dan sunnah, kita mulai perbaikan itu..
Semoga Allah memudahkan kita semua..
Aamiin..

Komentar

Postingan Populer