MEMANDANG AL QURAN DAN SUNNAH SEBAGAIMANA MESTINYA
Jarak
antara Nabi Isa 'alaihissalam dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa
sallam adalah kurang lebih 6 abad.
Artinya, cukup 6 abad untuk suatu kaum menjadi demikian rusak untuk
dihadirkannya kembali Nabi berikutnya, guna mengembalikannya kepada ajaran yang
murni sebagaimana yang telah diserukan oleh nabi-nabi sebelumnya.
Namun, jarak antara kita dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kurang lebih 15 abad (abad 6-21 Masehi).
Namun, jarak antara kita dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kurang lebih 15 abad (abad 6-21 Masehi).
Jika dalam waktu 6 abad saja, Allah subhanahu wa
ta’ala telah mengutus
Nabi berikutnya, untuk memperbaiki dan meluruskan kembali keadaan ummat
manusia, maka untuk kita sekarang ini, seharusnya sudah ada minimal 2 nabi yang diutus. Namun hal itu
mustahil terjadi, karena Allah telah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam sebagai Nabi terakhir-Nya.
Lalu, dengan apa kita dapat mengetahui bagaimana Islam sebagaimana Nabi dahulu, di abad ke-6 masehi itu?
Yaitu dengan membaca Al Qur’an dan Sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.
Lalu, dengan apa kita dapat mengetahui bagaimana Islam sebagaimana Nabi dahulu, di abad ke-6 masehi itu?
Yaitu dengan membaca Al Qur’an dan Sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.
Dengan membaca Al Qur’an dan sunahlah kita bisa mengetahui secara tepat bagaimana wahyu itu,
sebagaimana Allah dan rasul-Nya mengucapkannya pertama kali.
Maka, bacalah Al qur’an dan sunnah, untuk mengetahui bagaimana Islam yang dibawa oleh Rasul 15 abad yang lalu.
Keotentikannya telah dijamin di dalam Al Qur’an. Allah berfirman :
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya.” [al-Hijr/15:9]
Al Qur’an dan sunnah adalah petunjuk hidup. Bukan hanya kehidupan akhirat tapi juga dunia.
Namun kita tidak akan sampai pada kesimpulan itu, jika kita tidak
membacanya.
Atau hanya membacanya untuk urusan akhirat saja, mis: sekedar membaca
ayatnya saja, tanpa membaca terjemahannya.
Atau hanya membaca untuk mengetahui cara shalat, puasa,dll.
Atau melihat bahwa Al Qur’an hanya untuk dibaca pada momen tertentu
saja, mis: ada yang sekarat, atau dibaca pada saat ada keluarga yang meninggal.
Atau kita hanya menyuruh orang lain membacanya untuk satu keperluan,
misalnya mengusir setan dari rumah,dst..
Padahal Al Qur’an itu berisi petunjuk bagaimana menjalani hidup.
Memberikan panduan bagi hati yang bimbang dan fikiran yang bingung menentukan
pilhan dalam hidup. Sunnah pun demikian. Bahkan sunnah memberikan kita tata
cara praktis menjalani hidup. Yang jika itu dipraktekkan, kita akan mendapatkan
kebahagiaan dan lepas dari kebingungan.
Membaca dan mengikuti petunjuk dari Al Quran dan sunnah, juga membuat
tiada siapapun yang bisa menyesatkan kita dari jalan Islam yang benar. Karena
itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya telah aku tinggalkan bagi kalian, dua pedoman yang kalian
tidak tersesat selamanya : Kitabullah (Al Quran) dan sunnahku.” (HR.Al Hakim)
Banyak yang mengatakan Islam itu begini dan begitu. Yang kebanyakannya
hanyalah asumsi, stigma terhadap Al Qur’an dan sunnah.
Dan kita bisa terjebak dalam persepsi yang keliru, jika kita tidak membacanya sendiri. Hanya mendengarkannya dari orang lain.
Dan kita bisa terjebak dalam persepsi yang keliru, jika kita tidak membacanya sendiri. Hanya mendengarkannya dari orang lain.
Jika kita membacanya sendiri, dan memahaminya sebagaimana pemahaman Nabi
dan orang-orang yang hadir ketika ayat itu turun, dan ketika hadits itu
diucapkan oleh Nabi, kita akan menemukan sendiri, bagaimana wujud Islam yang
sebenarnya. Sebagaimana Islamnya Nabi di masa awal Islam itu turun.
Mari membaca, mengkaji dan mengamalkan dua pedoman hidup ini.
In syaa Allah tidak akan bingung dan tidak ada siapapun yang dapat menyesatkan kita dari jalan-Nya.
In syaa Allah tidak akan bingung dan tidak ada siapapun yang dapat menyesatkan kita dari jalan-Nya.



Komentar
Posting Komentar