KITA MERINGANKAN ATAU MEMPERBERAT BEBAN ORANG LAIN?
“Hah?! Meninggal ?!..inalillah..kenapa bisa?..”
Setelah dijelaskan oleh keluarga yang sedang berduka:
“kenapa juga tidak dibawa cepat ke dokter..”
“bagaimana bisa? Saya kira kamu ada waktu kejadian.."
“memangnya sama sekali nda ada yang bisa antar ke RS,ya?”
Dst, dengan berbagai macam ungkapan yang semakin menambah kesedihan pihak keluarga.
#Kisah 2
A : “Hei..sudah lahiran,ya..katanya kemarin di-caesar ya?”
“kenapa sampai caesar? *(mulai deh)
Setelah dijelaskan:
A : “oo..kalau kasusnya begitu, si A kemarin juga kasusnya sama. Dokter juga menyarankan caesar, tapi dia ngotot bersalin normal, nunggu bentar, akhirnya melahirkan normal, ternyata bisa kok..”
B: (terasa makin nyeri bekas operasinya)
#Kisah 3
A: “Kemarin katanya kamu kecurian ya?dimana? kenapa bisa?..”
B : “iya nih..”*(mulai menjelaskan kronologi)
A: “Yahh..kenapa juga disimpan disitu..” atau “kenapa juga terlalu percaya sama orang. Harusnya memang kalau ada barang berharga, jangan diperlakukan begini dan begitu ..” *(panjang)
B: (tercekat)
#Kisah 4
A : “ Kemarin anak kamu dipukuli sama temannya sampai babak belur,ya?”
B: “Iya. Akhirnya yang memukul, dihukum sama gurunya. Dipukul juga”
A: “ Oo..jadi yang memukul, akhirnya bagaimana kondisinya?” “duh..kasian juga,ya. Namanya anak-anak, memang masanya banyak salahnya.” *(gagal fokus. Justru menunjukkan empati kepada pelaku di hadapan keluarga korban)
B: *(nangis dalam hati)
#Kisah 5
A : “Kemarin anakmu dioperasi,ya?”
B : “iya nih..” (mulai menceritakan kronologi dan pertimbangan untuk memutuskan operasi)
A: “Yahh..kenapa langsung operasi?!”
“si C juga kayak gitu, Cuma dibawa kesini dan kesitu, dikasih begini dan begitu ..*(panjang), sembuh kok..”
B : (Menyesal sudah ambil keputusan salah)
Mungkin si B tidak sampai menyesal, tapi setidaknya, takdir Allah berupa operasi beserta seluruh konsekuensinya, semakin berat untuk diterima dan dijalani.
Masih banyak berbagai kejadian yang terjadi pada saudara kita. Dan, setiap takdir Allah, memiliki sebab dari orang lain.
Ada yang meninggal setelah pihak keluarga memilih suatu keputusan tindakan pengobatan terhadap seorang keluarganya yang sakit.
Ada anak yang meninggal tenggelam di baskom di kamar mandi ketika ibunya sedang shalat.
Ada yang anaknya meninggal tersedak susu, karena sang ibu menyendokkan susu sebagai pengganti ASI yang tak mau diminum oleh si kecil.
Dengan berbagai pertanyaan dan pernyataan yang seakan menyesali keputusan si ibu, duka ditinggal anak semakin berat karena ditambah rasa menyesal dan merasa bersalah yang berkepanjangan.
Yang tidak boleh kita lupakan adalah : dengan sebab apapun, ketika sesuatu itu telah terjadi, itulah takdir yang sudah ditetapkan Allah bagi seorang hamba.
Ketika ditimpa musibah, seorang muslim membutuhkan tambahan energi iman untuk bisa menerima takdir dan kuat menjalaninya.
Namun rasa prihatin, kadang mendorong orang untuk bertanya sebabnya, kemudian mengeluarkan tanggapan dan komentar yang dapat mengaburkan pandangan iman saudaranya karena semakin larut dalam kesedihan.
MERINGANKAN ATAU MENAMBAH BERAT BEBAN ORANG LAIN?
Melayat, menjenguk, memberikan tanggapan ataupun komentar atas ujian yang menimpa saudara kita, adalah termasuk bentuk-bentuk takziyah.
Istilah “takziyah” sudah dikenal di masyarakat.
Namun istilah ini, tak jarang hanya diartikan sebagai sebuah acara. Dimana didalamnya ada acara makan, berkumpul dan ada ceramah di rumah keluarga yang terkena musibah kematian.
Jika kita tidak mengamalkan perintah takziyah yang sebagaimana yang diajarkan dalam Islam, bentuk perhatian dan keprihatinan kita, bisa jadi semakin terasa memberatkan hati pihak yang sedang berduka, dan membuatnya sulit menerima dan menjalani takdir Allah.
BAGAIMANA SEHARUSNYA?
Kehidupan seorang muslim tak lepas dari dua keadaan : Senang atau sedih.
Dalam Islam, kita diajarkan konsep tahniah dan takziyah untuk dua keadaan ini.
Tahniah artinya ucapan selamat, sedangkan ta’ziyah artinya ucapan bela sungkawa (berduka cita).
( Mu’jam Maqayis al-Lughah, VI:68)
Dalam tulisan ini,kami ingin membahas konsep takziyah saja dulu.
Dilihat dari artinya, takziyah mengandung makna : menghibur orang yang terkena musibah.
Adapun menurut istilah:
"Takziyah adalah perintah bersabar, menanggung (beban) dengan diberi janji pahala dan ancaman dari berbuat dosa. Serta memberikan doa ampunan untuk mayat, sementara yang ditimpa musibah diganti atas musibah yang menimpanya.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 12/287)
Jadi, dalam takziyah terkandung upaya untuk:
- menyabarkan saudara kita dalam menjalani musibah
- menguatkannya untuk menanggung beban kesedihan yang dialaminya dengan menyampaikan janji Allah baginya jika bersabar dan menahannya agar tidak terjatuh ke dalam dosa, ketika musibah menimpa.
-Mendoakan dengan doa yang tepat sesuai kondisi pihak yang terkena musibah.
Jadi, ketika kita menjenguk orang sakit, inagtlah ketiga unsur taziyah ini: menyabarkan - menguatkan - mendoakan.
Ketika saudara kita sedang sedih karena kehilangan sesuatu, ingatlah ketiga unsur takziyah ini.
Ketika kita melayat ke rumah keluarga yang ditinggal mati, ingatlah ketiga unsur takziyah ini.
Ketika kita menjenguk saudara yang sakit, ingatlah ketiga unsur takziyah ini. Begitu seterusnya.
Juga perlu kita saling mengingatkan, bahwa jangan sampai cerita yang disampaikan, maupun yang kita korek dari pihak yang berduka, membuat kita masing-masing menyampaikan komentar, lalu menjadi bahan pembicaraan di belakang. Karena itu semakin menambah beban pihak yang sedang bersedih. Karena hakikat takziyah adalah meringankan dan bukan semakin menambah beban kesedihan saudara.
APAKAH TAKZIYAH HANYA UNTUK MUSIBAH KEMATIAN?
Dari definisi para ulama tentang takziyah, terlihat bahwa dianjurkan takziyah pada setiap musibah. Baik musibah kehilangan kerabat, harta atau pekerjaan atau musibah lainnya yang menimpa pada seorang muslim. Takziyah tidak hanya dianjurkan dalam kondisi kematian.
Terdapat dalam Hasyiyah Al-Baijuri dalam ‘Minhaj At-Tullab, 1/500: “Dianjurkan takziyah juga ketika kehilangan harta. Dan memberikan doa kepadanya dengan sesuatu yang tepat.”
(Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid)
Jadi, takziyah memiliki makna yang luas.
Untuk musibah apapun, Islam mengajarkan kita untuk bertakziyah kepada pihak yang sedang terkena ujian. Ujian apapun. Mulai dari ujian hidup berskala kecil sampai yang besar.
Menyabarkan saudara ketika tertusuk duri, itu takziyah.
Menyampaikan janji Allah bagi orang yang anaknya meninggal, itu takziyah.
Menyampaikan janji Allah bagi orang yang bersabar setelah kehilangan barang berharga, itu takziyah.
Mengingatkan saudara agar jangan meratap ketika ditinggal mati, itu takziyah.
Meringankan beban fikiran keluarga yang ditinggal mati dengan membuatkan makanan untuk mereka, itu takziyah.
Melayat dan menjenguk untuk menguatkan, menyabarkan dan mendoakan, itu takziyah.
Dst.
“Takziyah adalah bentuk penguatan orang yang ditimpa musibah agar mampu menahan kesabaran. Dan menunggu pahala, baik terhadap mayat atau lainnya seperti kehilangan uang banyak miliknya atau semisal itu. Maka anda datang kepadanya dan memberikan takziyah agar tahan dalam kesabaran agar tidak terpengaruh sekali (terhadap musibah yang menimpanya).” (Majmu Al-Fatawa, 17/384)
(Syaikh Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah)
JANJI ALLAH BAGI ORANG YANG TERKENA MUSIBAH
Takziyah –salah satunya- dilakukan menyampaikan janji-janji Allah yang dapat membuat saudara kita merasa ringan dengan ujian yang menimpanya.
Berikut beberapa janji Allah bagi orang yang terkena musibah yang dapat kita ingatkan untuk diri dan saudara kita yang sedang tertimpa ujian:
- Bagi orang tua yang ditinggal mati oleh anak yang belum baligh
Abu Sinan Kholid bin Ghollaq Al-Qoisiy -rahimahullah- berkata,
“Aku pernah katakan kepada Abu Hurairah, “Sesungguhnya ada dua orang anakku telah meninggal. Apakah anda bisa menceritakan kepadaku tentang sebuah hadits yang dapat membuat hati senang tentang orang-orang yang telah meninggal”.
Beliau berkata, “Ya, ada. Anak-anak kecil mereka adalah jentik-jentik surga. Seorang diantara mereka akan menyambut bapaknya atau kedua orang tuanya seraya memegang pakaiannya atau tangannya sebagaimana aku memegang ujung pakaianmu ini. Anak itu tidak berhenti (dari memegangnya) sampai Allah memasukkannya ke dalam surga bersama ayahnya”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 2635)]
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “
“Dikatakan kepada anak-anak kecil pada hari kiamat, “Masuklah kalian ke surga”.
Beliau bersabda, “Mereka pun berkata, “Wahai Rabb-ku, (saya tidak mau) sampai bapak dan ibu kami masuk surga”.
Beliau bersabda, “Lalu mereka (para orang tua) datang”.
Beliau bersabda, “Allah -Azza wa Jalla- berfirman, “Kenapa aku lihat mereka (anak-anak kecil itu) itu ngambek? Masuklah kalian (anak-anak kecil) ke dalam surga”.
Beliau bersabda, “Mereka pun berkata, “Wahai Rab-ku, orang tua kami?”
Beliau bersabda, “Allah berfirman, “Masuklah kalian bersama orang tua kalian!!” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/105). Hadits ini dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 16971), “Sanadnya jayyid (baik)”.
- Bagi orang yang merasa sedih atau tertekan:
Tidak ada penderitaan, kesengsaraan, sakit, kesedihan & bahkan juga kekalutan yg menimpa seorang mukmin, melainkan dgn semua itu dihapuskan sebagian dosanya. [HR. Muslim No.4670].
- Bagi orang yang terkena sesuatu yang menyakiti fisiknya:
Sesungguhnya setiap musibah yg menimpa seorang muslim itu adl sebagai penghapus dosa, termasuk pula jika ia terantuk batu ataupun tertusuk duri.'. [HR. Muslim No.4671].
Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yg Iebih kecil dari itu, melainkan akan ditulis baginya satu derajat & akan dihapus satu kesalahannya.' [HR. Muslim No.4664].
- Bagi orang yang sakit
Janganlah kamu menyalahkan penyakit, karena penyakit itu dapat menghilangkan kesalahan (dosa-dosa) anak Adam, seperti halnya Kir (alat peniup atau penyala api) membersihkan karat-karat besi. [HR. Muslim No.4672].
Dan masih banyak lagi dalil-dalil dari Al quran dan sunnah yang dapat meringankan beban hidup dengan saling mengingatkan satu sama lain.
Betapa indahnya ajaran Islam. Betapa kuatnya jiwa-jiwa yang disiram dengan kasih sayang dalam bentuk takziyah ini.
Mari bertakziyah sesuai tuntunan Islam. Mengamalkan sunnah dengan meringankan beban orang lain. Mengeratkan ikatan persaudaraan. Dan meraih pahala terbaik, dengan memasukkan kebahagiaan di hati orang lain.
Disusun dari berbagai sumber
Makasar, 3 September 2015



Komentar
Posting Komentar