AGAR TETAP BAHAGIA
"Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita."(Qs. 9: 40)Ayat ini merupakan petunjuk Allah kepada manusia melalui kalam(perkataan)-Nya.
Manusia dibekali Allah ta'ala berbagai emosi. Sedih, senang, takut, harap,dll.
Perasaan ini muncul untuk merespon kejadian yang telah kita alami.
Namun ayat ini, khusus mengajarkan cara menyikapi rasa sedih.
Karena rasa sedih terhadap peristiwa sedih yang pernah atau sedang terjadi, sering berlanjut menjadi rasa takut menghadapi masa depan.
Manusia tak mungkin lepas dari rasa sedih. Karena itu sudah menjadi fitrah dari Allah.
Namun kesedihan masa lalu, jika tak disikapi dengan benar, bisa membuat kita takut menghadapi hari esok, sehingga bisa membawa negatif yang tak sedikit.
Hal itu bisa membuat kita cemas berkepanjangan, sehngga menimbulkan masalah kejiwaan.
Tidak siap dengan ujian hidup berikut -padahal selama kita masih hidup, ujian akan terus datang-, sehingga ketika ujian datang, kondisi kejiwaannya semakin terpuruk.
Sedih terhadap yang lalu, bisa membuat kita lupa mensyukuri apa yang ada hari ini, sehingga kita kehilangan kebahagiaan.
Kita bisa membuat keputusan dan tindakan yang salah. Ketika kita merasa sudah tak sanggup lagi menyiapkan nafas untuk ujian berikutnya, bisa jadi manusia mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidup. Naudzubillah.
Manusia itu lemah.
Ujian tak akan pernah berhenti.
Dan karena kelemahan ini, kita tak akan pernah bisa menolak datangnya ujian yang menyedihkan hati.
Inilah hal yang seyogyanya kita sadari penuh.
Karena itu,
Kesedihan yang datang menyertai ujian, seharusnya membuat kita semakin menyadari betapa lemahnya kita di hadapan Allah.
Dan kesadaran akan betapa lemahnya kita, seharusnya semakin mendorong kita untuk meminta tolong kepada yang mampu membantu kita mengatasi kesedihan dan ujian-ujian hidup.
Dan itu, hanya Allah ta'ala yang bisa. Karena :
“jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri” (QS. Al An’am: 17).
Kesadaran akan kelemahan ini, jika membuat kita semakin menguatkan sandaran kepada Allah sebagai satu-satunya yang bisa menolong, akan membebaskan jiwa kita dari rasa tertekan memikirkan solusi dari masalah kita.
Dan semakin bersandar kita kepada Al Jabbar (Yang Maha Kuat Yang Menundukkan Segalanya), semakin kuatlah kita menghadapi ujian demi ujian.
Sehingga akhirnya kita akan menemukan, bahwa kekuatan kita, justru kita peroleh dengan menyadari kelemahan kita. Karena justru kesadaran itulah yang mengantarkan kita kepada Allah, Al Jabbar.
Dengan menyerahkan semua urusan, terutama kesedihan kita kepada-Nya, rasa sedih itu tidak akan menguasai hidup dan memporak-porandakan kebahagian dan ketenangan hidup kita lagi..
Hati yang bahagia hanya bagi yang beriman dan bertawakkal sepenuhnya kepada Allah..
Wallahu a'lam bish shawab ^^


Komentar
Posting Komentar