BERSYUKUR BUKAN HANYA KETIKA DIBERI NIKMAT
Seringkali...
Penderitaan hidup yang sudah pernah kita lewati, menjadi alasan untuk hidup semaunya pada hari ini. Mungkin masa kecil yang tak bahagia. Mungkin perpisahan orangtua. Mungkin hal-hal lain yang tidak bisa dikatakan mudah. Tak peduli apa efeknya bagi diri, maupun bagi interaksi kita dengan orang lain.
Bahkan, tak luput juga, orang yang rutin mengikuti kajian agama. Bahkan aktif berdakwah, merasakan ujian dan benturan-benturan jiwa yang berat.
Di tengah perjalanan kita meniti jalan keshalehan, jalan dakwah, jalan ketaatan, jalan hijrah, atau apapun namanya; kita mengalami hantaman hidup yang bertubi-tubi. Kita mengalami pahitnya kegagalan yang berlapis-lapis.
Seringkali...
Hantaman dan kegagalan itu membuat kita larut "menyalahkan orang lain" yang kita klaim sebagai "penyebab kepahitan dan kegagalan" itu.
Begitulah...
Kita lalu menjadi sangat frustrasi. Lalu membiarkan diri berlarut-larut dalam kesedihan. Ketika keadaannya membuat hubungannya dengan orang lain menjadi buruk, ia hanya meminta untuk dimengerti, karena ia orang yang menderita.
Kadang juga, ketika ada hal yang tidak diinginkan, lalu terjadi, seseorang bisa kehilangan semangat hidup. Abai introspeksi. Sebaliknya, terus menyalahkan pihak lain yang menjadi sebab masalah itu.
Akibatnya, ia tak kunjung memperbaiki diri. Terus merasakan pahitnya hidup, karena merasa, semua masalahnya, karena orang lain. Lalu dia hanyalah korban. Tak jarang, perasaan ini, membuatnya mengabaikan hak orang di sekitarnya, bahkan mungkin semena-mena kepada orang lain dengan alasan: ia orang yang sudah melewati begitu banyak penderitaan.
Saya melihat pemandangan ini di sekitar kita. Termasuk saya sendiri.
Lalu, harus bagaimana?
MULAI DARI MENGUBAH CARA PANDANG
Suatu masalah yang berat bagi sebagian orang, mungkin dipandang ringan saja oleh orang lain. Namun itu bukan berarti bahwa kita berhak untuk melestarikan penderitaan. Lalu berharap orang bisa mengerti kita terus menerus.
Yang harus kita tanyakan kepada diri adalah, apakah semua masalah ini harus menjadi akhir dari perjuangan mengejar kebaikan dari semua pintu-pintunya?
Apakah mendapatkan yang kita inginkan, dan terjauh dari yang tak sesuai kemauan kita, adalah segalanya untuk bisa tetap menjadi orang yang bahagia?
Apakah semua penderitaan yang pernah kita lalui, menjadi pembenaran untuk melakukan apa saja semau kita?
Hanya setakat inikah batas kebahagiaan seorang muslim?
Inikah memang gambaran kehidupan seorang manusia yang mengafiliasikan dirinya ke dalam Islam; sebuah agama yang berasal dari akar kata yang bermakna: "tunduk dan patuh" dan "selamat, sejahtera, dan damai"?
KEMBALI KE MAKNA ISLAM
Menurut bahasa Arab, pecahan kata "Islam" mengandung pengertian:
- Ikhlas menyerahkan diri kepada Allah ( islamul wajh)
- Tunduk secara total kepada Allah (istislama)
- Suci dan bersih (salaamah atau saliim)
- Selamat sejahtera (salaam)
- Tenang dan damai (silm)
Jika sedemikian damai seharusnya hidup seorang muslim, bagaimana bisa orang yang telah belajar Islam, rajin beribadah, bisa kehilangan kedamaian dan ketenangan ini?
Di mana akar masalahnya?
MASUKLAH ISLAM SECARA KESELURUHAN
Islam tidak hanya tentang jilbab besar, aktif berdakwah dan ibadah. Ia juga berbicara tentang value of life.
Apa value of life yang kita perpegangi, ketika kita menetakan diri sebagai seorang muslim?
Apakah Islam hanya sampai di pakaian dan amalan badaniyah, namun untuk konsep dan persepsi kita serahkan pada semaunya kita?
Jika demikian, dimana kita letakkan Allah, Islam dan rasul, ketika kita ingin diatur pada sebagian hal, namun ingin mengatur hidup kita sendiri, menurut cara yang kita anggap menyenangkan hati, dalam hal yang lain?
Sungguh cara hidup ini, bukanlah cara hidup seorang muslim.
Karena Allah telah mencela yahudi karena sikap ini, dalam firman-Nya :
"Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain?" Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian darimu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan di hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dan apa yang kamu perbuat. " (Al Baqarah: 85)
Dan bukan mustahil, seseorang yang muslim menurut lahiriyahnya, namun juga mengadopsi mentalitas dan karakter agama lain dalam dirinya. Naudzubillah.
Karena itulah, Allah membentangkan ayat-ayat tentang sikap-sikap orang yang dibenci dan sesat, agar kaum muslimin menjauh dari mentalitas seperti itu.
Jangan merasa cukup ketika sudah mampu melakukan yang tidak dikerjakan oleh kebanyakan orang.
Apakah ketika kita telah berhijab, berarti kita telah melakukan sebagian besar perintah Islam? rasanya terlalu naif untuk menyatakan demikian.
Justru jilbab besar, ketekunan ibadah dan berdakwah hanyalah sebagian kecil dari ajaran Islam yang harus kita amalkan.
Masih panjang perjalanan untuk menjadi seorang muslim yang kaffah. Karen itu Islam mencela orang-orang yang merasa cukup. Sudah cukup amal. Cukup ilmu,dst.
Karena itu semua bisa membuat seseorang berhenti mencari lagi kebenaran dalam berbagai ayat lainnya dalam al qur'an.
Berhenti memperbaiki diri.
Menutup telinga dari nasehat dan koreksi, karena merasa cukup.
LIHATLAH KE BAWAH!
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
BERSYUKUR, BUKAN HANYA KETIKA KITA DIBERI NIKMAT
Tapi rasa syukur ini juga sangat diperlukan ketika kita diberikan ujian yang paling keras sekalipun.Sehingga kita tetap bisa melihat nikmat Allah yang masih begitu banyak.
Dengan melihat ke bawah, kita tidak akan menghabiskan waktu untuk menangisi nikmat yang tercabut.
Ia akan menjadi energi yang besar untuk bisa mensyukuri nikmat Allah yang masih ada.
Dengan hati yang penuh syukur inilah, hati dan fikiran bisa terbuka untuk melanjutkan hidup dengan produktivitas ibadah yg terjaga. Kualitas hidup dan kebahagiaan yang tetap tinggi. Sehingga kita siap menyongosng hari pertemuan dengan Allah ta'ala, untuk mempersembahkan amal-amal terbaik kita. Dan amal itu bukan hanya shalat dan puasa. Yang setelah sajadah dilipat, kita lalu melanjutkan hidup sebagi mayat hidup, yang bergerak dengan kehampaan hidup.
BUKAN SEKEDAR MASIH HIDUP
Hiduplah sebenar-benarnya dengan berbekal keyakinan bahwa nikmat Allah masih begitu banyak.
Dan masih begitu banyak ibadah dan kebaikan yang bisa dilakukan dilakukan kepada sesama, untuk mensyukuri nikmat yg masih ada tersebut.
Karena itu, perintah bersyukur, bukan hanya untuk membuat kita tetap berpijak ke bumi. Tidak tinggi hati ketika mendapatkan nikmat.
Tapi juga untuk bisa tetap terbuka mata hati dan fikiran untuk produktif beribadah dan berbuat kebaikan kpd diri sendiri dan orang lain, sebagai bentuk kesyukuran atas nikmat yang sebenarnya masih begitu banyak, meski terasa banyak nikmat yang dicabut dari diri kita.
Dengan demikian, kita tidak akan menyepelekan nikmat-nikmat Allah.
Karena, menyepelekan nikmat, cenderung menganggapnya tidak ada.
Dan ketika ini terjadi, kita akan luput untuk mensyukurinya.
Dan ketika syukur ditinggalkan, Allah berfirman:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)
Syukur adalah bukti engkau menghamba kepada Allah:
"...Bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah” (QS. Al Baqarah: 172)
Sungguh, syukur adalah pembuktian bahwa hanya kepada Allah kita memperhambakan diri. Sepenuhnya. Total. Sehingga sekalipun banyak nikmat yang telah Allah cabut, kita tetap menunjukkan bahwa kita rela dengan semua pengaturan-Nya untuk hidup kita. Pengaturan yang kadang sesuai, dan kadang bertentangan dengan keinginan pribadi kita.
Maka, jangan hanya mengingat nikmat Allah ketika kita lapang. Tapi juga ketika hidup sedang ada masalah. Bukalah mata, untuk melihat masih betapa banyaknya nikmat Allah untuk kita. Caranya adalah dengan melihat ke bawah dalam persoalan dunia. Masih ada yang lebih susah daripada kita. Masih banyak nikmat yang kita dapatkan dibandingkan hamba-hamba Allah yang lainnya.
Jangan sampai, satu, sepuluh, seratus masalah membuat mata kita tertutup dari melihat nikmat Allah yang tak terhingga..



Komentar
Posting Komentar